MInggu ke Delapan "Uji Kuantitatif Bahan Toksik"

Pada praktikum minggu ke delapan ini kami kelas B2 Teknik dan Manajemen Lingkungan Sekolah Vokasi IPB melakukan praktikum uji kuantitatif bahan toksik yaitu baygon, molto, bayclin, deterjen cair, dan wipol pembersih lantai. untuk kelompokku bagian pakai bahan toksik baygon ya pembacaa heheheh
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pencemaran air adalah suatu perubahan keadaan di suatu tempat penampungan air, seperti sungai, danau, dan laut akibat aktivitas manusia. Sungai, danau, dan laut merupakan bagian terpenting dalam kehidupan kita. Berbagai macam fungsinya sangat membantu kehidupan manusia. Fungsi terbesar sungai, danau, dan laut adalah untuk irigasi pertanian, bahan baku air minum, sebagai saluran pembuangan air hujan dan ar limbah, bahkan sebenarnya berpotensi untuk menjadi objek wisata (Halimah. 2005).
Menurut Hendrawan (2005), pemanfaatan air untuk menunjang seluruh kehidupan organisme jika tidak dibarengi dengan tindakan bijaksana dalam pengelolaannya akan mengakibatkan kerusakan pada sumberdaya air. Rusaknya sumber daya air ini dapat disebabkan oleh adanya pencemaran, baik itu substansi yang bersifat toksik maupun non-toksik. Perairan yang tercemar dapat mengakibatkan penurunan kualitas air yang berdampak pada kehidupan organisme yang ada disekitarnya. Pencemaran air pada umumnya diakibatkan oleh kegiatan manusia. Besar kecilnya pencemaran tergantung dari jumlah dan kualitas limbah yang dibuang ke sungai, baik limbah padat maupun cair. salah satu penyebab pencemaran air adalah limbah rumah tangga yaitu berupa sisa detegjen dan pemutih pakaian. Pada bahan tersebut mengandung bahan kimia yang lebih tahan dan tidak berubah dalam berbaga media (Matoa, 2008). Darmono (2001) menambahkan bahan kimia organik seperti minyak, plastik, pestisida, larutan pembersih, detergen, pembasmi serangga dan masih banyak lagi bahan organik terlarut yang digunakan oleh manusia dapat menyebabkan kematian pada ikan maupun organisme air lainnya. Lebih dari 700 bahan kimia organik ditemukan dalam jumlah relatif sedikit pada permukaan air tanah. Dari uraian di atas, kami ingin mengetahui pengaruh kuantitatif bahan toksik terhadap pergerakan dan kehidupan biota akuatik.

B.    Tujuan
Tujuan dari praktikum kali ini adalah untuk mengetahui kuantitatif bahan toksik yang dibutuhkan hingga menyebabkan kematian pada setengah populasi pada kehidupan akuatik.

METODE KERJA
A.    Alat dan Bahan


-          Alat       1.      Gelas ukur
       2.      Baskom
       3.      Stopwatch
       4.      DO meter
       5.      PH paper
       6.      PH meter
-          Bahan 
       1.      Air
       2.      Ikan, 1 kelompok 5 ikan untuk 2 kali percobaan
       3.      Kelompok 1. Deterjen cair
                    Kelompok 2. Baygon cair
                    Kelompok 3. Molto cair 
                    Kelompok 4. Bayclin cair 
                    Kelompok 5. Wipol pembersih lantai

B.   Cara Kerja
1.      Ikan dimasukkan ke dalam baskom, 2 ekor untuk baskom 1, dan 2 ekor untuk baskom 3 dengan ditambahkan air
2.      Diukur PH dan DO air, diamati untuk 0-15 menit pertama dari adaptasi ikan
3.      Tambahkan bahan dari tiap kelompok (deterjen, baygon, molto, bayclin, wipol, yang sudah dilarutkan dengan air) untuk kelompok 2 dengan baygon baskom 1 dengan 5 ml dan baskom 2 dengan 15 ml
4.      Diamati perubahan yang terjadi, untuk tiap detik, menit, dan jam, berapa jumlah ikan yang mati dan perubahan yang terjadi
HASIL DAN PEMBAHASAN
  
A.    Hasil
      Tabel 1. Hasil pengamatan ikan dengan penambahan baygon cair
  
Baskom 1 (5 ml)
Baskom 2 (15 ml)
ket
      Waktu
Perilaku ikan
   Waktu
Perilaku ikan
 1
1’
     Ikan melompat keluar baskom, tercekam dan bergerak aktif
1’ 
     Ikan melompat keluar baskom, tercekam dan bergerak sangat aktif
pH awal : 6
DO awal : 4,2
2
2’
     Ikan berenang terbalik
2’
    Ikan berenang terbalik dan kehilangan keseimbangannya
3
3’
Ikan sudah mulai bergerak pasif dan kehilangan keseimbangannya
3’
Ikan sangat pasif
Baskom 1 :
pH akhir : 8
DO akhir : 2,8
4
7'
     Ikan kejang dan insang terbuka lebar
7’
   Ikan kejang dan insang terbuka lebar serta berdarah
5
14'
Ingsang ikan mengeluarkan darah dan bengkak, sirip dan ekor mulai berdarah
14’
     Ikan melayang insang membengkak, sirip dan ekor berdarah
Baskom 2
Ph akhir : 10
DO akhir : 3,1
6
15'
Ikan mati semua
15’
Ikan mati semua

                Tabel 2. Hasil pengamatan ikan dengan penambahan bayclin


   No. 
Baskom 1 (5 ml)
Baskom 2 (15 ml)
ket
     Waktu
Perilaku ikan 
    Waktu
Perilaku ikan
1
1’
    2 ekor Ikan berenang sangat aktif, pergerakannya sangat cepat, dan ikan muncul kepermukaan air untuk mencari oksigen kemudian.
1’
    3 ekor Ikan berenang di atas permukaan air,  ikan aktif, bergera k secara cepat.
       Baskom 1

       pH awal : 6
        pH akhir : 8
      DO awal : 15,4
       DO akhir : 10,5


2
2’11
2 ekor Ikan terlihat melemas, pergerakannya lambat. kemudian, pada menit (2'11'') 1 ekor ikan mulai berenang di dasar permukaan baskom.
2’11
3 ekor Ikan berenang      di atas permukaan air, ikan aktif, bergerak secara cepat.
3
3’
2 ekor ikan tersebut berenang di dasar permukaan baskom.
3’
3 ekor ikan masih terlihat berenang aktif di atas permukaan air.
         Baskom 2
         pH awal : 6
         PH akhir : 8,5
         DO awal : 24,3
         DO akhir : 40,8
4
4’1”
   2 ekor ikan tersebut, terdiam di dasar permukaan baskom. Kemudian, pada menit ke 4'10'' ikan kembali berenang namun, tidak beraturan dan kehilangan arah.
3’15
    3 ekor ikan tersebut, berenang di dasar permukaan baskom. Kemudian, pada  menit (3'15'') 1 ekor ikan mengeluarkan darah pada insannya.
5
5’
    2 ekor ikan tersebut, masih berenang di tengah permukaan air. Tetapi, ikan tersebut, mulai kehilangan keseimbangan.
5’ 
    2 ekor ikan berenang di dasar permukaan dan 1 ekor ikan berenang agresif.
-
6
6’
2 ekor ikan masih berenang tetapi, kehilangan keseimbangan.
6’
3 ekor ikan masih berenang di dasar permukaan baskom. Tetapi, 3 ekor ikan tersebut mulai terlihat melemas.
7
7’
kedua ikan tersebut masih berenang tetapi, kondisi kehilangan keseimbangan (miring) dan insannya terbuka.
7’
3 ekor ikan masih berenang di dasar permukaan baskom. Tetapi, kondisi kehilangan keseimbangan.
-
8
8'05''
Kedua ikan tersebut masih berenang tetapi, kondisi kehilangan keseimbangan 9(miring) dan insannya terbuka. Dan pada menit (8'05'') 1 ekor ikan ingin loncat dari baskom.
7’13”
3 ekor ikan masih berenang dan mencoba ke atas permukaan air. Kemudian, pada menit (7'13'') 1 ekor ikan ingin loncat dari baskom.
-
9
9’
kedua ikan masih berenang kembali di dasar permukaan baskom tetapi, kondisi kehilangan keseimbangan.
9’
ketiga ikan tersebut, berenang secara agresif dan ingin loncat dari baskom.
-
10
10’
kedua ikan masih berenang di dasar permukaan baskom dengan kondisi melemas.
10’
ketiga ikan berenang gelisah dan kehilangan keseimbangannya.
-
11
11’
kedua ikan terlihat masih berenang di dasar permukaan baskom dengan kondisi lemas.
11’
ketiga ikan masih berenang tetapi, kondisi kehilangan keseimbangan (miring).
-
12
12’
kedua ikan terlihat masih berenang di dasar permukaan baskom dengan kondisi lemas.
12’
2 ekor ikan terlihat masih berenang tetapi kondisi lemas. Kemudian, 1 ekor ikan sudah tidak melakukan pergerakan lagi (mati).
-
13
13’
kedua ikan tersebut, terdiam didasar permukaan baskom.
13’
      ketiga ikan tersebut, sudah tidak melakukan pergerakan sama sekali (mati).
-
14
14’
kedua ikan tersebut sudah tidak melakukan pergerakan/berenang (mati).
-
-
-

         Tabel 3. Hasil pengamatan ikan dengan penambahan molto
  
      No. 
Baskom 1 (50 ml)
Baskom 2 (200 ml)
ket
     Waktu
Perilaku ikan
Waktu
Perilaku ikan
1
5"
Ikan bergerak aktif
10”
    Ikan bergerak aktif
         pH air: 6
         DO air: 4.2


2
1’37”
    Ikan berenang ke atas permukaan
1’
      Ikan berenang ke atas permukaan
3
3’10’’
    Ikan mulai berenang ke dasar
2’
      Ikan mulai berenang ke dasar
         Baskom 1
         pH awal: 6
         DO awal: 3.8
       pH akhir: 5
      DO akhir: 3.2


4
6’
    Ikan masih berenang di dasar
5’20”
     Ikan masih berenang di dasar dan sedikit melemah
5
8’15’’
    Ikan masih bergerak namun sedikit pasif
8’
1 ikan mati dan 2 lainnya sekarat
        Baskom 2
         pH awal: 5
        DO awal: 4.5
         pH akhir: 5
DO akhir: 3.4
  6
11’
     1 ikan bergerak lemah dan berenang tidak tentu arah
    10’35’’
     Ikan mati semua dan menguning pada bagian mulut
    Tabel 4. Hasil pengamatan ikan dengan penambahan Wipol
    No.
Baskom 1 (50 ml)
Baskom 2 (200 ml)
Ket
   Waktu
Perilaku ikan
  Waktu
Perilaku ikan
1
20"
Ikan bergerak aktif
5"
   Ikan bergerak aktif
pH awal : 6
DO awal : 4,2
2
25"
   Ikan mulai tercekam
54"
Ikan berenang ke bawah
3
1' 45"
Ikan sudah mulai bergerak pasif
1' 34"
Ikan berlendir
Baskom 1 :
pH akhir : 8,5
DO akhir : 3,7
4
4'
Ikan mengeluarkan lendir
2' 23"
Ingsang ikan mengeluarkan darah
5
5'
Ingsang ikan mengeluarkan darah
10' 23"
Ikan mati 1
Baskom 2
Ph akhir : 10
DO akhir : 3,3
6
15'
Ikan mati semua
11' 47"
Ikan mati 2
7
-
-
13'
Ikan mati 3
     Tabel 5. Hasil pengamatan ikan dengan penambahan deterjen cair
     No.
Baskom 1 (50 ml)
Baskom 2 (200 ml)
ket
Waktu
Perilaku ikan
Waktu
Perilaku ikan
1
1’10’’
Diam di dasar
2’30’’
    Ikan mengeluarkan darah di insang
        Baskom 1
       pH awal : 6
       pH akhir : 7
        DO awal : 4.2
        Do akhir : 3.1




      2



    1’29’’  



Insang ikan terbuka



3’10’’ 



    Ikan berenang miring
3
2’25’’
    Insang ikan 1 berdarah
6’30’’
Ikan 1 mati
        Baskom 2
         pH awal : 6
        pH akhir : 7
        DO awal : 4.2
         DO akhir :2.4


4


3’37’’


    Insang ikan 2 berdarah


12’5’’


Ikan 2 mati
5
     6’35’’
Ikan sudah sekarat
12’27’’
Ikan 3 mati




-
      8’32’’
Bergerak ke atas mencari udara
-
-
7
      12’31’’
 Ikan 1 mati dan sisiknya rusak
-
-
8
12’50’’
        Ikan 2 bergerak ke atas mencari udara
-
-
9
1  4’15’’
Ikan 2 mati
-
-
A.    Pembahasan
Toksikologi dapat didefinisikan sebagai kajian tentang hakikat dan mekanisme efek berbahaya (efek toksik) berbagai bahan kimia terhadap makhluk hidup dan sistem ,biologik lainnya. Toksikologi dapat juga membahas penilaian kuantitatif tentang berat dan kekerapan efek tersebut sehubungan dengan terpejannya (exposed) makhluk tadi (Wirasuta, 2006). Menurut UU No. 4 tahun 1982 bahwa yang dimaksud dengan pencemaran adalah masuknya atau dimasukannya organisme, energi, zat, dan atau komponen lain ke dalam lingkungan oleh aktivitas manusia atau alam menyebabkan kualitas menurun pada titik tertentu sehingga tidak sesuai lagi peruntukannya. Pencemaran air dapat didefinisikan sebagai masuknya atau dimasukannya organisme, energi, zat, dan atau komponen lain ke dalam lingkungan perairan oleh aktivitas manusia atau alam menyebabkan kualitas menurun pada titik tertentu sehingga tidak sesuai lagi peruntukannya.
Pada praktikum ini, ikan dijadikan sebagai bioindikator karena menurut Natsir, 2013 mengatakan bahwa ikan dapat digunakan sebagai bioindikator karena mempunyai kemampuan merespon adanya bahan pencemar. Ikan dapat menunjukkan reaksi terhadap perubahan fisik air maupun terhadap adanya senyawa pencemar yang terlarut dalam batas konsentrasi tertentu. Reaksi yang dimaksud antara lain adanya perubahan aktivitas pernafasan, aktivitas dan gerakan renang, warna tubuh ikan dan sebagainya.
Penambahan berbagai bahan toksik yang bersifat basa seperti, baygon, molto, deterjen, wipol, dan bayclin menyebabkan peningkatan pH dalam air sehingga mengganggu sistem respirasi ikan. Ikan yang pada umumnya hidup di dalam air memiliki aktivitas respirasi. Pada aktivitas respirasi, ikan memompa air dari mulut kemudian oksigen terlarut disaring dan diserap oleh insangnya, selanjutnya air tersebut dikeluarkan lagi. Jika air dalam kondisi yang tidak menguntungkan atau air mengandung zat-zat toksik tertentu, maka akan mempengaruhi aktivitasnya dan dapat menyebabkan kematian. Semua zat atau materi dapat berpotensi toksik bagi makhluk hidup, dalam hal ini zat yang terkandung di dalam deterjen adalah surfaktan. Surfaktan diabsorpsi oleh ikan melalui pernafasan dan pencernaannya. Surfaktan yang larut dalam air masuk ke dalam mulut ikan, lalu pada sistem pernafasan. Surfaktan diabsopsi secara bersamaan dengan oksigen oleh insang dan kemudian dialirkan keseluruh tubuh melalui sistem transportasi tubuh ikan.
Pada praktikum uji kuantitatif bahan toksik kali ini kelompok 2 menggunakan baygon sebagai bahan toksik yang ditambahkan ke dalam 2 ember berisi ikan. Baygon merupakan jenis insektisida golongan fosfat organic. Yang diketahui dalam baygon sebenarnya ada 2 jenis racun utama yang terkandung yaitu propoxur dan transflutrin, dimana kandungan propoxur merupakan senyawa karbamat. Mekanisme dari keracunan baygon ini menghambat dan menginaktivasikan enzim asetilkolinesterase. Enzim ini secara normal menghancurkan asetilkolin yang dilepaskan oleh SSP, ganglion autonom, ujung –  ujung saraf parasimpatis, dan ujung – ujung saraf motoric. Hambatan enzim asetilkolinesterase menyebabkan tumpukan sejumlah besar asetilkolin pada tempat – tempat tersebut. Sehingga terjadi hipereksitasi secara terus menerus dari reseptor muskarinik dan nikotinik.
Baygon pada baskom 1 ditambahkan sebanyak 5 ml dan pada baskom ke 2 ditambahkan sebanyak 15 ml dengan masing-masing jumlah ikan yaitu 2 dan 3. Berdasarkan hasil pengamatan dapat diketahui bahwa pada hasil penambahan baygon dengan konsentrasi 5 ml pada menit pertama kondisi ikan yang diamati mulai melompat keluar baskom, tercekam, dan mulai bergerak aktif. Pada menit ke 2 ikan mulai berenang terbalik, kemudian pada menit ke 3 ikan mulai berenang pasif dan kehilangan keseimbangan, pada menit ke 7 ikan mulai kejang-kejang dan insang mulai membuka dengan lebar. Pada menit ke 14 pergerakan ikan mulai melemah, insang ikan mengeluarkan darah dan bengkak, sirip dan ekor mulai berdarah. Pada menit ke 15 atau menit terakhir ikan mati semua dengan kondisi insang yang membengkak. Hasil penambahan baygon pada konsentrasi 15 ml pada baskom ke 2 menit pertama ikan melompat keluar baskom, tercekam dan bergerak sangat aktif, kemudian pada menit ke 2 ikan berenang terbalik dan mulai kehilangan keseimbangannya, pada menit ke 3 ikan bergerak sangat pasif, pada menit ke 7 Ikan kejang dan insang terbuka lebar serta berdarah, pada menit ke 14 ikan melayang insang membengkak, sirip dan ekor berdarah, pada menit ke 15 ikan mati semua denga kondisi insang yang membengkak.
Pada percobaan penambahan baygon ikan mati pada menit ke 15 baik pada baskom 1 maupun pada baskom 2, pada percobaan penambahan deterjen cair ikan mati pada menit ke 14”15” pada baskom 1 dan 12’27” pada baskom 2, kemudian pada percobaan penambahan wipol ikan mati pada baskom 1 pada menit ke 15 dan pada baskom 2 pada menit ke 13. Pada percobaan penambahan molto ikan mati di baskom 1 pada menit ke 11 dan baskom 2 pada menit ke 10’35”. Pada percobaan penambahan bayclin cair ikan pada baskom 1 mati pada menit ke 14 dan baskom ke 2 pada menit ke 12.
Ikan dalam baskom pada percobaan penambahan baygon sebanyak 5 ml pada baskom pertama mati pada menit ke 15, ikan dalam baskom ke 2 dengan penambahan baygon sebanyak 15 ml juga mati pada menit yang sama yaitu menit ke 15, namun pada baskom ke 2 ikan pergerakannya lebih cepat lemas, dan insang cepat berdarah hal itu dikarenakan jumlah penambahan baygon yang lebih banyak pada baskom ke 2 yaitu sebanyak 15 ml sehingga menyebabkan perbedaan mortalitas ikan yang cukup signifikan antara baskom 1 dan baskom 2.
Berdasarkan hasil pengamatan dapat diketahui bahwa pada hasil penambahan bahan toksik yaitu deterjen cair merupakan bahan toksik yang paling cepat membuat ikan mati yaitu pada menit ke 6’30” pada baskom ke 2 dengan penambahan deterjen cair sebanyak 200 ml, untuk baskom 2 ikan mati bersamaan pada menit ke 12’31” dengan penambahan deterjen cair sebanyak 50 ml. Deterjen cair merupakan campuran berbagai bahan yang digunakan untuk membantu pembersihan dan terbuat dari bahan-bahan turunan minyak bumi yang mengandung surfaktan yang berbahaya bagi organisme hidup akuatik.
Menurut PP No 85 tahun 1999 LD50 adalah dosis tertentu yang dinyatakan dalam milligram berat bahan uji per kilogram berat badan (BB) hewan uji yang menghasilkan 50 % respon kematian pada populasi hewan uji dalam jangka waktu tertentu.

KESIMPULAN 
Berdasarkan hasil pengamatan dapat diketahui bahwa bahan toksik berupa deterjen cair merupakan bahan yang paling toksik yang paling cepat mematikan organisme akuatik dalam uji kuantitatif bahan toksik pada praktikum kali ini. Hal ini disebabkan karena kandungan zat toksik yaitu surfaktan yang terkandung dalam deterjen cair lebih tinggi dibandingkan kandungan surfaktan dari bahan bahan lainnya.


DAFTAR PUSTAKA
Darmono, 2001. Lingkungan Hidup dan Pencemaran: Hubungannya Toksikologi Senyawa Logam. Universitas Indonesia. Jakarta
Halimah, 2005. Pencemaran Merkuri dan Strategi Penambangan Emas. Bogor: Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor
Hendrawan, 2005. Kualitas Air Sungai dan Situ di DKI Jakarta. Jakarta (ID): Universitas Negeri Jakarta
      Matoa, 2008. Uji Toksisitas Bahan Kimia. Surakarta (ID): Universitas Sebelas Maret
      Natsir, 2013. Toksikologi Lingkungan Hewan Akuatik. Jakarta (ID): Gramedia
PP No 85 tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun
UU No. 4 tahun 1982 tentang ketentuan-ketentuan pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup
     Wirasuta, 2006. Toksikologi Umum. Bali (ID): Universitas Udayana



okeee segitu dulu yaaa laporan praktikum minggu ke delapan, sampai ketemu di tulisan praktikum selanjutnyaaa, thankyouu :)
                   





Komentar