Minggu ke 9 "Kuantitatif Bahan Toksik (Deterjen)

Kemarin udah bahas tentang beberapa jenis bahan toksik, nah sekarang di praktikum ke 9 ini melakukan uji coba pada beberapa jenis deterjen yang berbeda untuk melihat perbedaan pengaruhnya terhadap ikan. Hasil yang didapat semakin tinggi konsentrasi bahan aktif surfaktannya maka semakin tinggi pengaruhnya terhadap ikan. Berikut laporan yang saya buat pada praktikum kali ini.
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Keberadaan deterjen dalam suatu badan air dapat merusak insang dan organ pernapasan ikan. Kerusakan insang dan organ pernapasan ikan ini menyebabkan toleransi ikan terhadap badan air yang kandungan oksigen terlarut rendah menjadi menurun. Keberadaan busa-busa di permukaan air diduga menyebabkan menurunnya oksigen terlarut dalam air tidak bisa bertambah karena hubungan dengan udara bebas tertutup. Dengan demikian organisme dalam badan air akanmati bukan karena keracunan namun karena kombinasi kerusakan organ pernapasan dan kekurangan oksigen. Selain merusak insang dan organ pernapasan ikan yang pada gilirannya dapat menyebabkan kematian ikan tersebut. 
Menurut (Tresna Sastrawijaya), busa tidaklah berbahaya tetapi kandungan deterjen di dalam air mungkin sudah cukup untuk membunuh berbagai organisme yang ada seperti ikan. Deterjen berbahaya bagi ikan biarpun konsentrasinya kecil. Misalnya natrium dodesil benzena sulfonate dapat merusak insang ikan, biarpun hanya 5 ppm. Ikan dapat bertahan selama sebulan jika deterjen mencapai 3 ppm. Tetapi bagi organisme yang menjadi makanan ikan hal ini sudah berbahaya. Keberadaan busa-busa di permukaan air juga menjadi salah satu penyebab kontak udara dan air terbatas sehingga menurunkan oksigen terlarut. Dengan demikian akan menyebabkan organisme air kekurangan oksigen dan dapat menyebabkan kematian.
Salah satu yang menyebabkan tercemarnya air adalah penggunaan deterjen yang berlebih di perairan. Deterjen adalah pembersih sintetis yang terbuat dan bahan-bahan turunan minyak bumi, yang terdiri dan bahan kimia yang dapat memberikan dampak negatif pada biota yang hidup di laut ataupun sungai. Salah satu biota yang merasakan dampak dari penggunaan deterjen tersebut adalah ikan. Salah satu kasus yang terjadinya kematian ikan akibat pencemaran air yang di sebabkan oleh penggunaan deterjen oleh manusia. Deterjen tersebut bisa membuat ikan-ikan yang ada pada perairan menjadi terganggu, pernapasannya terganggu, bahkan bisa membuat ikan menjadi mabuk dan akhirnya berujung pada kematian. 

B.     Tujuan
Tujuan dari praktikum kali ini adalah untuk mengetahui kuantitatif bahan toksik deterjen yang dibutuhkan hingga menyebabkan kematian pada setengah populasi pada kehidupan akuatik.

METODE KERJA

A.    Alat dan Bahan
-          Alat
1.      Gelas ukur
2.      Baskom
3.      Stopwatch
4.      PH paper
-          Bahan
1.      Air
2.      Ikan, 1 kelompok 5 ikan
3.      Kelompok 1. Molto deterjen cair
Kelompok 2. Attack cair
Kelompok 3. Total almeera cair
Kelompok 4. So Klin cair
Kelompok 5. Rinso cair

B.     Cara Kerja
1.      Baskom di isi dengan air sebanyak 2,4 liter
2.      Ikan dimasukkan ke dalam baskom yang telah berisi air sebanyak 5 ekor  
3.      Diukur PH air, diamati untuk 0-15 menit pertama dari adaptasi ikan
4.      Tambahkan bahan dari tiap kelompok (total deterjen cair cair, attack cair, total almeera cair, so kiln cair, rinso cair) untuk kelompok 2 menggunakan attack cair sebanyak 35 ml
5.      Diamati perubahan yang terjadi, untuk tiap detik, menit, dan jam, berapa jumlah ikan yang mati dan perubahan yang terjadi


HASIL DAN PEMBAHASAN

A.    Hasil
Tabel 1. Hasil pengamatan ikan dengan penambahan total deterjen cair
No.
Penambahan 35 ml
Ket
Waktu
Perilaku ikan
1
12''
Ikan 1 insang mulai berdarah dan berlendir
PH awal : 6
PH akhir :7
2
50''
Ikan 2 dan 3 mencari oksigen ke permukaan
3
1'30''
Ikan 3 melompat ke permukaan
4
2'20''
Ikan 2 sekarat dan berlendir
5
2'38''
Insang semua ikan berdarah dan berlendir
6
3'
Ikan 1 mati
7
4'3''
Ikan 2 mati
8
5'
Ikan 3 mati
9
6'49''
Ikan 4 mati
10
7'07''
Ikan mati semua

                Tabel 2. Hasil pengamatan ikan dengan penambahan attack cair
No.
Penambahan 35 ml
Ket
Waktu
Perilaku ikan
1
1’
Ikan bergerak agresif dan tercekam








PH awal : 7
PH akhir : 8
2
2’
Ikan mulai bergerak pasif, insang berdarah dan mulai berlendir
3
3’
Ikan mulai berenang ke permukaan untuk mencari oksigen, insang ikan berdarah semua
4
4'
Ikan berenang pasif dan bergerak ke permukaan
5
5'
Ikan hampir mati dan kehilangan keseimbangan
6
6'
Ikan pucat dan membiru
7
7'
1 ikan mati , air berlendir
8
8'
Ikan mati semua
                Tabel 3. Hasil pengamatan ikan dengan penambahan total almeera
No.
Penambahan 35 ml
Ket
Waktu
Perilaku ikan
1
1'
Ikan menjadi agresif, dan ikan berenang ke permukaan
PH awal : 7
PH akhir : 8
2
1'35''
Ikan melompat ke permukaan
3
2'
Semua ikan insangnya berdarah
4
3'
3 ikan mati
5
3'44''
1 ikan melemah, 4 ikan mati
6
4'28''
Keluar darah dari insang ikan
7
5'
Ikan mati semua,warna ikan menguning
   Tabel 4. Hasil pengamatan ikan dengan penambahan So kiln liquid.
No.
Penambahan 35 ml
Ket
Waktu
Perilaku ikan
1
1'
Ikan berenang aktif, berenang sangat cepat dan bergerombol
PH awal : 6
PH akhir :7
2
2'
Ikan berenang dengan kehilangan keseimbangan, ikan kejang-kejang
3
3'
Ikan masih berenang tetapi sudah kehilangan keseimbangan dan insangnya mengeluarkan darah
4
4'
3 ekor ikan diam didasar permukaan baskom dan 2 ekor ikan berenang, tetapi kehilangan keseimbangan
5
5'
Ingsang ikan mengeluarkan darah dan bengkak, sirip dan ekor mulai berdarah
6
6'
4 ekor ikan sudah tidak melakukan pergerakan (mati), dan 1 ekor ikan masih berenang tetapi dalam keadaan kehilangan keseimbangan

7
7'
Semua ikan sudah tidak melakukan pergerakan atau aktivitas (mati)
  
  Tabel 5. Hasil pengamatan ikan dengan penambahan rinso cair
No.
Penambahan 35 ml
Ket
Waktu
Perilaku ikan
1
14:26
Ikan berenang ke dasar air
PH awal : 6,5
PH akhir : 8
2
13:31
Ikan mulai ke permukaan mencari oksigen
3
13:30
Ikan mengeluarkan darah
4
12:30
Ikan melemas dan banyak mengeluarkan kotoran
5
11:47
Ikan tidak bergerak
6
08:34
Ikan mulai mengapung
7
07:30
Ikan berwarna pucat
8
07:00
Ikan mati semua
B.     Pembahasan
Berdasarkan hasil pengamatan pada uji toksisitas bahan toksik yaitu attack deterjen cair yang ditambahkan pada air yang telah dimasukkan ikan, perilaku ikan yang terjadi pada menit pertama ikan bergerak agresif dan tercekam, kemudian pada menit ke 2 ikan mulai bergerak pasif, insang berdarah dan berlendir, pada menit ke 3 ikan mulai berenang ke permukaan untuk mencari oksigen, insang ikan berdarah semua. Kemudian pada menit ke 4 ikan berenang pasif dan bergerak ke permukaan, menit ke 5 ikan hampir mati dan kehilangan keseimbangan, pada menit ke 6 ikan pucat dan membiru, pada menit ke 71 ikan mati , air berlendir, dan pada menit ke 8 ikan mati semua. Perilaku ikan diatas dipengaruhi oleh jumlah persen konsentrasi surfaktan dan soaking agent dalam attack deterjen yaitu sebanyak 16 % surfaktan utama yang relative banyak dan 3,5 % soaking agent.
      Pada pengamatan menggunakan bahan deterjen rinso cair, perilaku ikan pada menit 1 ikan mulai berenang ke dasar air, menit ke 2 ikan mulai berenang ke permukaan untuk mencari oksigen, kemudian pada menit ke 3 ikan mulai mengeluarkan darah, pada menit ke 4 ikan mulai melemas dan banyak mengeluarkan kotoran, menit ke 5 ikan mulai tidak bergerak, menit ke 6 ikan mengapung, menit ke 7 ikan berwarna pucat, dan pada menit ke 8 ikan mati semua. Perilaku ikan diatas juga dipengaruhi oleh jumlah persen konsentrasi surfaktan yaitu sebanyak 16 % total surfaktan, dan 1,4 % bahan additivie
      Pada pengamatan menggunakan bahan So klin liquid, perilaku ikan pada menit pertama ikan berenang sangat aktif, sangat cepat, dan bergerombol. Pada menit ke 2 ikan berenang dengan kehilangan keseimbangan dan ikan mengalami kejang-kejang. Pada menit ke 3 ikan masih berenang tetapi sudah kehilangan keseimbangan dan insangnya mengeluarkan darah, kemudian pada menit ke 4, 3 ekor ikan diam didasar permukaan baskom dan 2 ekor ikan berenang, tetapi kehilangan keseimbangan. Kemudian pada menit ke 5 insang ikan mengeluarkan darah dan bengkak, sirip dan ekor mulai berdarah, pada menit ke 6, 4 ekor ikan sudah tidak melakukan pergerakan (mati), dan 1 ekor ikan masih berenang tetapi dalam keadaan kehilangan keseimbangan. Pada menit ke 7, semua ikan sudah tidak melakukan pergerakan atau aktivitas (mati). Perilaku ikan tersebut juga dipengaruhi oleh jumlah persen konsentrasi total surfaktan yaitu sebanyak 25 % total surfaktan dan antibacterial agent sebanyak 0,1 %.
Pada pengamatan dengan menggunakan bahan total deterjen cair, perilaku ikan pada 12 detik pertama yaitu ikan 1 insang mulai berdarah dan berlendir, kemudian pada 50 detik ikan 2 dan 3 mulai mencari oksigen ke permukaan. Pada menit ke 1'30'' ikan 3 melompat ke permukaan, pada menit ke 2'20''       Ikan 2 sekarat dan berlendir, menit ke 2'38'' insang semua ikan berdarah dan berlendir, menit ke 2'38''  insang semua ikan berdarah dan berlendir. Kemudian pada menit ke 3' ikan 1 mati, menit ke 3' ikan 1 mati, menit ke  4'3'' ikan 2 mati, menit ke 5' Ikan 3 mati, menit ke  6'49'' ikan 4 mati, dan pada menit ke 7'07'' ikan mati semua. Perilaku ikan diatas juga dipengaruhi oleh jumlah konsentrasi surfaktan yaitu sebanyak
Pada pengamatan menggunakan total almeera cair, perilaku ikan pada menit 1 ikan menjadi agresif, dan berenang ke permukaan, pada menit ke 2 semua ikan insangnya berdarah, pada menit ke 3 tiga ikan mati, menit ke 4, 1 ikan mulai melemah dan 4 ikan mati, dan pada menit ke 5 ikan mati semua dan warna ikan menguning.
Perilaku ikan dengan beberapa jenis deterjen sebagai bahan toksik sangat dipengaruhi oleh jenis bahan kimia yang terkandung dalam tiap deterjen, seperti surfaktan, soaking agent, bahan additive, antibacterial agent dan sebagainya. Salah satunya adalah surfaktan yang dapat menghancurkan sel, kemudian mengganggu proses yang penting pada organisme yaitu insang sebagai organ yang penting memiliki sifat sensitive yang tinggi terhadap racun di perairan. Kerusakan organ respirasi ini disebabkan karena terjadinya iritasi pada permukaan insang sehingga mengganggu proses respirasi. Selain merusak insang, surfaktan juga merusak indra perasa ikan sehingga ikan akan kesulitan dalam mencari makan. Jumlah surfaktan yang terkandung dalam tiap jenis deterjen yang digunakan sangat mempengaruhi perilaku ikan dan kecepatan mati ikan, semakin tinggi persen konsentrasi surfaktan maka semakin cepat juga ikan akan mati (Puspasari, 2000).
Surfaktan (sebagai bahan dasar detergen) sebesar 2030%, builders (senyawa fosfat) sebesar 70-80 %, dan bahan aditif (pemutih dan pewangi) yang relative sedikit yaitu 2-8%  (Kirk dan Othmer, 1982). Semakin tinggi akumulasi detergen maka semakin rendah pula suplai oksigen terlarut di dalam air. Hal ini menyebabkan terganggunya proses respirasi pada ikan. Sehingga dampak yang paling buruk adalah kematian pada ikan. Kematian yang terjadi dikarenakan berhentinya fungsi kerja organ-organ tubuh pada ikan (Sri, 2011).
Berdasarkan hasil pengamatan dapat dilihat bahwa kecepatan rata-rata ikan mati semua pada menit ke 7, pada penambahan total deterjen cair ikan mulai mati pada menit ke 3 dan mati semua pada menit ke 7'07'. Pada penambahan attack cair ikan mulai mati pada menit ke 7 dan mati semua pada menit ke 8 dengan konsentrasi surfaktan 16 % dan soaking agent 3,5 %. Pada penambahan dengan total almeera ikan mulai mati pada menit ke 3 dan mati semua pada menit ke 5. Pada penambahan so kiln liquid, ikan mulai matai pada menit ke 6 dan mati semua pada menit ke 7 dengan total surfaktan sebanyak 25 % dan antibacterial agent sebanyak 0,1 %. Pada penambahan rinso cair ikan mati semua pada menit ke 7 dengan 16 % total surfaktan dan 1,4 % bahan additive. Dari data diatas terlihat bahwa ikan paling cepat mati dengan penambahan total almeera cair.
Dari hasil praktikum yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa bahan-bahan yang terkandung dalam deterjen terutama adalah  additives, yaitu bahan suplemen/tambahan untuk membuat produk lebih menarik, misalnya pewangi, pelarut, pemutih, pewarna dan sebagainya yang tidak berhubungan langsung dengan daya cuci Deterjen. Additives ditambahkan lebih untuk maksud komersialisasi produk. Contohnya enzyme, borax, sodium chloride, Carboxy Methyl Cellulose (CMC) dipakai agar kotoran yang telah dibawa oleh Deterjent ke dalam larutan tidak kembali ke bahan cucian pada waktu mencuci (anti Redeposisi). Wangi-wangian atau parfum dipakai agar cucian berbau harum, sedangkan air sebagai bahan pengikat. Selain itu ada Surfaktan (surface active agent) yang merupakan zat aktif permukaan yang mempunyai ujung berbeda yaitu hydrophile dan hydrophobe. Bahan aktif ini berfungsi menurunkan tegangan permukaan air sehingga dapat melepaskan kotoran yang menempel pada permukaan bahan. Surfaktant terbagi atas jenis anionic (Alkyl Benzene Sulfonatel ABS, Linier Alkyl Benzene Sulfonate (LAS) bersifat kationik (Garam Ammonium), Alpha Olein Sulfonate (AOS) bersifat non ionic (Nonyl phenol polyethoxyle) serta Amphoterik (Acyl Ethylenediamines). Surfaktan mempunyai sifat merusak organ respirasi, ini disebabkan karena terjadinya iritasi pada permukaan insang sehingga mengganggu proses respirasi. Selain merusak insang, surfaktan juga merusak indra perasa ikan sehingga ikan akan kesulitan dalam mencari makan. Jumlah surfaktan yang terkandung dalam tiap jenis deterjen yang digunakan sangat mempengaruhi perilaku ikan dan kecepatan mati ikan, semakin tinggi persen konsentrasi surfaktan maka semakin cepat juga ikan akan mati.
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa konsentrasi yang paling aman untuk lingkungan adalah konsentrasi attack deterjen cair, hal itu dibuktikan dengan perilaku ikan yang paling lama mati dibandingkan dengan bahan toksik dari deterjen lain. Attack cair membunuh ikan paling lama yaitu pada menit ke 7 setelah pemberian deterjen, sedangkan ikan mati semua pada menit ke 8. Sehingga dapat disimpulkan attack cair memiliki konsentrasi yang paling aman untuk lingkungan.
Pada praktikum kali ini air yang dituangkan ke baskom sebanyak 2,4 liter, dengan konsentrasi deterjen yang dimasukkan sebanyak 35 ml. Sedangkan pada pemakaian real sehari-hari 1 sachet deterjen (50 ml) untuk volume air sebanyak 10 liter. Untuk melihat sebanding tidaknya praktikum ini dengan pemakaian deterjen sehari-hari, maka perlu dilakukan perbandingan antara air dan deterjen yang digunakan pada saat praktikum dengan pemakaian realnya. Didapatkan hasil perbandingan antara praktikum dan pemakaian real sebesar 2,916 : 1, yang berarti praktikum tidak mewakili penggunaan sehari-hari. Agar dapat mewakili penggunaan sehari-hari maka dilakukan perbandingan lagi untuk mencari berapa ml deterjen yang digunakan dalam 2,4 liter air, dan didapatkan hasil yaitu 12 ml deterjen. Jadi, seharusnya pada saat praktikum menggunakan 12 ml deterjen supaya praktikum dapat mewakili penggunaan sehari-hari.



KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan dapat diketahui bahwa bahan toksik berupa deterjen cair total almeera merupakan bahan yang paling toksik yang paling cepat mematikan organisme akuatik dalam uji kuantitatif bahan toksik deterjen ini, dan yang paling lama adalah attack cair sehingga konsentrasinya paling aman dibandingkan deterjen cair lainnya. Semakin tinggi kandungan surfaktan pada deterjen maka makin berpengaruh juga pada kondisi dan perilaku ikan sehingga menyebabkan ikan banyak yang mati.


DAFTAR PUSTAKA
    Fitri D, Ardiansyah. 2010. Pengaruh Detergen Terhadap Mortalitas Benih Ikan Patin
    Kirk, R.E. & Othmer, D.F. (1982). Encyclopedia of Chemical Technology. New York: The Intersience and Encyclopedia Inc.
Puspasari Mari. 2000. "Tosisitas Surfaktan Deterjen, Linier Alkibenzen Sulfonat (LAS), Terhadap  Perkembangan Embrio Lele Dumbo (Clarias sp.)", Skripsi, Bogor: IPB
Sastrawijaya Tresna. 2009. Sebagai Bahan Pembelajaran Kimia Lingkungan. STAIN Palangka Raya Pencemaran Lingkungan, cetakan ke-3, Jakarta: Rineka Cipta,
Sri Siswahyuningsih, 2011. "Pengolahan Ikan Ikan Patin (Pangasius sp)", Karya Ilmiah, Jakarta: Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan.




 

Komentar