SANITASI DAN TOKSIKOLOGI LINGKUNGAN "MY SECOND PRACTICUM"
Hallooo pembacaaaaa, welcome to my room :) kenaliiinnn nama gue mauliddya. temen temen gue demennya manggil "maul". Gue mahasiswa tingkat akhir Sekolah Vokasi Institut Pertanian Bogor ngambil prodi Teknik dan Manajemen Lingkungan, cinta lingkungan gue tuh haha ga deng boong b aja maksud aku:D ini adalah tulisan pertama gue di blog ini heheh, isinya tentang apa yang gue lakuin di praktikum mata kuliah sanitasi dan toksikologi lingkungan. gue juga sebenernya ga ngerti ngerti amat sama ini matkul hehe tapi as a student i mean mahasiswa wkwk gue berusaha buat menyukai semua matkul meskipun otak gue ga dewa dewa amat ya kali bisa semua matkul i am not angel huhu:(
ngomong-ngomong sebenernya ini yang mau gua bahas praktikum minggu ke dua gue soalnya gue lupa tuh praktikum pertama gue ngebahas apa wkwk maklum aku ga rajin nyatet orangnya heheheh
langsung aja yah jangan lama lama basa basinya ga baik getoh katanya :D
Jadi di praktikum ini dikasi tugas buat melakukan pengamatan sanitasi di beberapa tempat, nah kelompok gue kebagian di tempat industri pangan, langsung deh gue dan kelompok gue ke pabrik tahu tapi disini skala kecil, kayak industri rumah tangga gitu lah ya heheheh. Jadi lokasinya itu di daerah Bantarjati Kota Bogor.
Langsung ke materi yaaaa...
Jadi menurut WHO kesehatan adalah keadaan yang meliputi kesehatan fisik, mental dan sosial yang tidak hanya berarti suatu keadaan yang bebas dari penyakit dan kecacatan. Menurut PP No. 66 Tahun 2014 tentang kesehatan lingkungan, kesehatan lingkungan adalah upaya pencegahan penyakit dan/atau gangguan kesehatan dari faktor risiko lingkungan untuk mewujudkan kualitas lingkungan yang sehat baik dari aspek fisik, kimia, biologi maupun sosial. Nah Sedangkan Pengertian Sanitasi Pangan sendiri adalahhhh
Sanitasi pangan adalah upaya pencegahan terhadap kemungkinan bertumbuh dan berkembangbiaknya jasad renik pembusuk dan patogen dalam makanan, minuman, peralatan, dan bangunan yang dapat merusak pangan dan membahayakan manusia.
Industri tahu merupakan industri kecil yang pada umumnya dikelola dalam bentuk industri rumah tangga, sehingga perkembangannya selalu dihadapkan dengan permasalahan yang menyangkut bahan baku yaitu kedelai, ketersediaan, dan kualitas faktor produksi, tingkat keuntungan, pemasaran serta permodalan.
Menurut UU No. 7 Tahun 1996 Tentang Pangan :
Setiap orang yang bertanggung jawab dalam penyelenggaraan kegiatan atau proses produksi, penyimpanan, pengangkutan, dan atau peredaran pangan wajib:
a. memenuhi persyaratan sanitasi, keamanan, dan atau keselamatan manusia;
b. menyelenggarakanprogram pemantauan sanitasi secara berkala; dan
c. menyelenggarakan pengawasan atas pemenuhan persyaratan sanitasi
Tujuan Kesehatan Lingkungan
1. Mewujudkan kualitas lingkungan kerja industri yang sehat dalam rangka menciptakan pekerja yang sehat dan produktif
2. Mencegah timbulnya gangguan kesehatan, penyakit akibat kerja, dan kecelakaan kerja
3. Mencegah timbulnya pencemaran lingkungan akibat kegiatan industri
Standar kesehatan lingkungan kerja
1. Nilai ambang batas faktor fisik dan kimia
2. Indikator pajanan biologi
3. Standar baku mutu kesehatan lingkungan
Persyaratan kesehatan lingkungan kerja
1. Faktor fisik
2. Faktor biologi
3. Penanganan Beban manual
4. Kesehatan pada media lingkungan
Untuk mengantisipasi dan mengetahui kemungkinan bahaya di lingkungan kerja yang diperkirakan dapat menimbulkan penyakit akibat kerja utamanya terhadap para pekerja, ditempuh empat langkah utama yaitu :
1. Pengenalan Lingkungan Kerja
2. Evaluasi Lingkungan Kerja
3. Pengendalian Lingkungan Kerja
4. Pengendalian Lingkungan
KONDISI SANITASI
|
No
|
Item/Kriteria
|
Kondisi
|
Peraturan
|
Keterangan
|
|
1
|
Air Bersih
|
|||
|
|
|
1) Air bersih untuk keperluan produksi menggunakan air dari
|
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1405/MENKES/SK/XI/2002 Tentang PERSYARATAN KESEHATAN LINGKUNGAN
KERJA PERKANTORAN DAN INDUSTRI
|
|
|
|
|
2) Air bersih untuk keperluan karyawan menggunakan air isi ulang galon
|
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1405/MENKES/SK/XI/2002 Tentang PERSYARATAN KESEHATAN LINGKUNGAN
KERJA PERKANTORAN DAN INDUSTRI
|
Sesuai dengan peraturan
|
|
|
|
3) Distribusi air bersih menggunakan sistem perpipaan
|
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1405/MENKES/SK/XI/2002 Tentang PERSYARATAN KESEHATAN LINGKUNGAN
KERJA PERKANTORAN DAN INDUSTRI
|
Sesuai dengan peraturan
|
|
|
|
4) sumber air bersih dan sarana distribusi terbebas dari pencemaran fisik, kimia dan bakteriologis
|
Berdasarkan Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1405/MENKES/SK/XI/2002 Tentang PERSYARATAN
KESEHATAN LINGKUNGAN KERJA PERKANTORAN DAN INDUSTRI
|
Sesuai dengan peraturan
|
|
|
|
5) Tidak ada tindakan pengambilan
sampel air bersih
|
Berdasarkan Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1405/MENKES/SK/XI/2002 Tentang PERSYARATAN
KESEHATAN LINGKUNGAN KERJA PERKANTORAN DAN INDUSTRI
|
Tidak sesuai dengan peraturan
|
|
2
|
Udara ruangan
|
|||
|
a
|
Suhu & Kelembaban
|
Suhu ruangan 28'c sedangkan suhu ruang produksi 40'c ; Kelembaban tidak diukur karena keterbatasan alat
|
Berdasarkan Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1405/MENKES/SK/XI/2002 Tentang PERSYARATAN
KESEHATAN LINGKUNGAN KERJA PERKANTORAN DAN INDUSTRI
|
Tidak sesuai dengan peraturan
|
|
b
|
Debu
|
Pengukuran debu tidak dilaksanakan karena keterbatasan alat
|
Berdasarkan Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1405/MENKES/SK/XI/2002 Tentang PERSYARATAN
KESEHATAN LINGKUNGAN KERJA PERKANTORAN DAN INDUSTRI
|
-
|
|
c
|
Pertukaran Udara
|
Pabrik telah memiliki lubang ventilasi sekitar 15% dari luas ruangan produksi
|
Berdasarkan Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1405/MENKES/SK/XI/2002 Tentang PERSYARATAN
KESEHATAN LINGKUNGAN KERJA PERKANTORAN DAN INDUSTRI
|
Sesuai dengan peraturan
|
|
d
|
Gas Pencemar
|
Gas pencemar yang dihasilkan berasal dari Pembakaran Kayu bakar untuk pemanasan dan uap dari pemasakan bahan baku
|
Berdasarkan Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1405/MENKES/SK/XI/2002 Tentang PERSYARATAN
KESEHATAN LINGKUNGAN KERJA PERKANTORAN DAN INDUSTRI
|
Sesuai dengan peraturan
|
|
e
|
Mikroba
|
Kami tidak melakukan uji mikroba karena keterbatasan Alat
|
Berdasarkan Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1405/MENKES/SK/XI/2002 Tentang PERSYARATAN
KESEHATAN LINGKUNGAN KERJA PERKANTORAN DAN INDUSTRI
|
-
|
|
3
|
Limbah
|
|||
|
a
|
Padat/Sampah
|
Limbah padat berupa ampas tahu yang digunakan sebagai pakan ternak atau langsung dibuang ke Bak sampah didepan Pabrik
|
Berdasarkan Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1405/MENKES/SK/XI/2002 Tentang PERSYARATAN
KESEHATAN LINGKUNGAN KERJA PERKANTORAN DAN INDUSTRI
|
Tidak sesuai dengan peraturan
|
|
b
|
Cair
|
Limbah cair langsung dibuang tanpa melakukan pengolahan
|
Berdasarkan Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1405/MENKES/SK/XI/2002 Tentang PERSYARATAN
KESEHATAN LINGKUNGAN KERJA PERKANTORAN DAN INDUSTRI
|
Tidak sesuai dengan peraturan
|
|
4
|
Pencahayaan di ruangan
|
|||
|
|
|
Pencahayaan ruangan rata - rata
128 lux
|
Berdasarkan Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1405/MENKES/SK/XI/2002 Tentang PERSYARATAN
KESEHATAN LINGKUNGAN KERJA PERKANTORAN DAN INDUSTRI
|
Sesuai dengan peraturan
|
|
5
|
Kebisingan di ruangan
|
|||
|
|
|
Tidak ada kebisingan yang dapat mengganggu kesehatan atau membahayakan
|
Berdasarkan Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1405/MENKES/SK/XI/2002 Tentang PERSYARATAN
KESEHATAN LINGKUNGAN KERJA PERKANTORAN DAN INDUSTRI
|
Sesuai dengan peraturan
|
|
6
|
Getaran di ruangan
|
|||
|
|
|
Tidak ada getaran yang dapat mengganggu gesehatan atau membahayakan
|
Berdasarkan Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1405/MENKES/SK/XI/2002 Tentang PERSYARATAN
KESEHATAN LINGKUNGAN KERJA PERKANTORAN DAN INDUSTRI
|
Sesuai dengan peraturan
|
|
7`
|
Radiasi di ruangan
|
|||
|
a
|
Medan Listrik
|
Pabrik ini tidak menggunakan medan listrik dan medan magnit
listrik dalam proses produksinya, sehingga kecil kemungkinan terjadi radiasi medan listrikmagnit
|
Berdasarkan Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1405/MENKES/SK/XI/2002 Tentang PERSYARATAN
KESEHATAN LINGKUNGAN KERJA PERKANTORAN DAN INDUSTRI
|
-
|
|
b
|
Medan Magnit Listrik
|
-
|
|
-
|
|
8
|
Vektor Penyakit
|
|||
|
a
|
Serangga penular penyakit
|
Terdapat lalat dan nyamuk saat proses produksi
|
Berdasarkan Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1405/MENKES/SK/XI/2002 Tentang PERSYARATAN
KESEHATAN LINGKUNGAN KERJA PERKANTORAN DAN INDUSTRI
|
Tidak sesuai dengan peraturan
|
|
b
|
Tikus
|
Tidak terdapat tikus saat kami melakukan kunjungan,
namun besar kemungkinan tikus dapat hadir karena kondisi bangunan pabrik yang tidak terawat
|
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1405/MENKES/SK/XI/2002 Tentang PERSYARATAN KESEHATAN LINGKUNGAN
KERJA PERKANTORAN DAN INDUSTRI
|
Tidak sesuai dengan peraturan
|
|
9
|
Toilet
|
|||
|
|
|
Terdapat 1 Toilet untuk 3 orang karyawan yang digunakan untuk kegiatan MCK dan ganti pakaian
|
Berdasarkan Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1405/MENKES/SK/XI/2002 Tentang PERSYARATAN
KESEHATAN LINGKUNGAN KERJA PERKANTORAN DAN INDUSTRI
|
Tidak sesuai dengan peraturan
|
|
10
|
Instalasi
|
|||
|
|
|
Instalasi listrik berada didekat tepat produksi yang cenderung lembab, APAR sudah diletakkan didekat ruang produksi sehingga memudahkan karyawan untuk menggunakannya saat keadaan darurat.
|
Berdasarkan Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1405/MENKES/SK/XI/2002 Tentang PERSYARATAN
KESEHATAN LINGKUNGAN KERJA PERKANTORAN DAN INDUSTRI
|
Tidak sesuai dengan peraturan
|
|
11
|
Ruang & Bangunan
|
|||
|
|
|
Bangunan tidak terawat, dalam keadaan kotor terutama di bagian atap ruang produksi, besar kemungkinan terjadinya gangguan kesehatan bahkan kecelakaan kerja
|
Berdasarkan Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1405/MENKES/SK/XI/2002 Tentang PERSYARATAN
KESEHATAN LINGKUNGAN KERJA PERKANTORAN DAN INDUSTRI
|
Tidak sesuai dengan peraturan
|
|
|
|
Lantai terbuat dari cor semen, kedap air, permukaan tidak rata, licin dan kotor
|
Berdasarkan Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1405/MENKES/SK/XI/2002 Tentang PERSYARATAN
KESEHATAN LINGKUNGAN KERJA PERKANTORAN DAN INDUSTRI
|
Tidak sesuai dengan peraturan
|
|
|
|
Dinding kotor dan berjamur, banyak cat yang terkelupas
|
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1405/MENKES/SK/XI/2002 Tentang PERSYARATAN KESEHATAN LINGKUNGAN
KERJA PERKANTORAN DAN INDUSTRI
|
Tidak sesuai dengan peraturan
|
|
|
|
Langit - langit tidak di pasang plafon(langsung genteng dan rangka atap), Kotor dan penuh dengan sawang
|
Berdasarkan Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1405/MENKES/SK/XI/2002 Tentang PERSYARATAN
KESEHATAN LINGKUNGAN KERJA PERKANTORAN DAN INDUSTRI
|
Tidak sesuai dengan peraturan
|
|
|
|
Ketinggian atap dan lantai sudah memenuhi standar yaitu minimal 2,5 m
|
Berdasarkan Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1405/MENKES/SK/XI/2002 Tentang PERSYARATAN
KESEHATAN LINGKUNGAN KERJA PERKANTORAN DAN INDUSTRI
|
Sesuai dengan peraturan
|
kita mulai nge feeds poto poto aja yeh













Komentar
Posting Komentar